Ditulis Oleh : Marika Permana Desi, S.Pd.
Namaku Marika, usia empat puluh delapan tahun. Di awal tahun dua ribuan aku bersama ayahku pergi ke rumah bibi di kota Depok. Disana aku ruangan yang berisikan mainan anak, kursi dan meja warna warni serta beberapa loker dengan buku-buku didalamnya. Ternyata bibiku mempunyai sebuah sekolah PAUD. Sepertinya menyenangkan bekerja dikelilingi anak-anak yang lucu, energik dan polos begitu pikirku. Bekerja tidak jauh dari rumah dan waktunya terbatas setiap harinya. Saat itu aku sempat bermimpi jika aku bisa mempunyai sekolah seperti itu, alangkah menyenangkan.
Hari demi hari kulalui, dengan berbagai peristiwa yang menjadi bagian dari hidupku. Tahun 2001 aku menerima lamaran seseorang yang akhirnya menjadi bagian hidupku sampai sekarang. Tahun 2002 lahirlah buah hati pertama kami. Kelahirannya sebagai cucu pertama tentunya disambut suka cita baik oleh keluargaku dan keluarga suamiku. Bagiku tahun ini adalah tahun yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Senang karena mendapatkan putri yang lucu, cantik dan sehat tapi disisi lain sedih karena skripsiku yang belum selesai sementara teman-temanku yang lain sudah ikut sidang skripsi. Aku sempat merasa putus asa.
Tahun 2007 keluarga kecil kami kembali diberi amanah dengan kehamilanku yang kedua. Kegembiraan yang hadir ternyata tidaklah berlangsung lama saat aku menerima kabar suamiku harus dirumahkan karena terkena masalah. Aku hanya bisa menangis di atas sajadah mengadu kepada pemilik langit dan bumi, tapi hidup harus terus berjalan. Perlahan namun pasti kami bangkit dan menata hidup kami kembali. Suami sempat beberapa kali berganti pekerjaan. Terakhir suami memutuskan membuka usaha warung makan di daerah Depok, walau cukup menguras tabungan kami pada saat itu aku tetap mendukungnya.
Waktu berlalu, suami mendapat pekerjaan yang lebih baik dan tahun 2012 aku memutuskan keluar dari pekerjaanku karena beberapa alasan. Pertama aku mau fokus merawat ibuku yang sakit keras. Kedua, aku mau membimbing dan mengasuh anak-anakku sendiri agar lebih mandiri dan ketiga aku mau fokus dengan usahaku. Aku merasa sudah cukup mengumpulkan tabungan yang sempat terkuras. Saat itulah aku mencari-cari informasi sebanyak-banyaknya tentang cara mendirikan sekolah PAUD. Alhamdulillah dengan bantuan beberapa orang, sekolah ku mendapat ijin dari Dinas Pendidikan kota Depok dan sampai saat ini PAUD ku masih berjalan. Mimpiku yang sempat tertunda akhirnya menjadi kenyataan. Barakallah Fiikum. ***

