Ditulis Oleh : Dian Widianti
Hari itu terasa berbeda dari hari biasanya. Hari yang biasa penuh canda tawa menjadi hari yang cukup mencekam dan tak terlupakan. Gadis kecilku yang mulai beranjak remaja baru beberapa bulan mengalami masa pubertasnya. Hari itu adalah hari ulang tahun putriku. Seperti hari-hari biasanya selalu saja ada kejahilan dan pertengkaran antar saudara yang selalu mewarnai hari-hari di rumah kami.
Namun hari itu suasananya terasa berbeda, karena mungkin pikiranku terasa penat dengan permasalahan yang harus dihadapi, pertengkaran hari itu terasa menguras emosiku sehingga aku berusaha melerainya dengan nada tinggi. Inilah masalahnya, nada tinggiku dan kalimatnya yang terkesan menyalahkan putriku yang saat itu dalam kondisi sensitif emosinya memicu puncak kemarahannya, dia merasa aku pilih kasih. Tangisnya langsung pecah, marah, emosi dan langsung lari membanting pintu kamarnya.
Aku kaget dan awalnya terpancing juga emosiku namun akhirnya aku dibuat termenung, mencoba mengingat kalimat yang kuucapkan. Aku mencoba mengingat beberapa ilmu parenting yang kupelajari, dan mulai mengerti setelah mencoba untuk introspeksi diri. Seorang ibu tetaplah manusia biasa yang pasti punya kecenderungan, niat hati selalu mencoba untuk tetap adil pada ketiga anakku, tapi mungkin tak bisa dihindari adanya kecenderungan berbeda pada masing-masing anak tanpa disadari.
Setelah beberapa saat introspeksi diri dan terbersit ketakutan adanya dampak dari situasi ini pada kesehatan mental putriku, entah itu berdampak pada kepercayaan dirinya, perasaan terabaikan, atau timbul persaingan tidak sehat antar saudara. Aku tak mau menggoreskan luka di hatinya yang membuat aku merasa gagal menjadi seorang ibu yang baik.
Kuketuk pintu kamarnya, hening … lalu terdengar suara lirih tangisan dibalik pintu kamarnya. Pelan kubuka pintu kamarnya, pelan-pelan mendekat dan dengan suara lirih aku minta maaf. Putriku menangis dibalik bantalnya, dengan suara lirih aku mencoba menjelaskan tanpa bisa membendung air mataku, sungguh aku tak bermaksud berlaku tak adil pada putriku. Emosi putriku masih menggebu, dengan nada cukup tinggi dia keluarkan apa yang ada di pikirannya yang selama ini dia rasakan.
Aku terdiam, air mata berurai dan dengan lirih kuucapkan kembali kata maaf, “Maafkan bunda ya sayangku atas kelalaian sikap bunda selama ini, bunda berjanji akan lebih hati-hati lagi dalam bersikap ke depannya.”
Kupeluk putriku sepanjang malam sampai dia tertidur pulas. ***
Pesan Moral :
“Secara prinsip orang tua wajib berlaku adil dan tidak pilih kasih pada anak-anaknya. Namun secara alami, ekspresi dan kedekatan kasih sayang bisa terlihat berbeda, perlu kehati-hatian orang tua dalam bersikap agar tidak disalahartikan oleh anak-anak kita. Jika itu terjadi segeralah minta maaf, jangan sampai berdampak serius pada kesehatan mental anak-anak kita.”

