Ditulis Oleh : Fatahilah Sutawiyono, S.Pd.
Di sudut kelas, Hadi membuka kotak bekalnya yang berisi ayam goreng renyah. Di sebelahnya, Anita tertunduk lesu karena ia lupa membawa bekal dan uang jajannya tertinggal di rumah.
“Wah, ayam gorengnya harum sekali!” seru Hadi senang.
Anita hanya diam sambil memandangi mejanya yang kosong. “Boleh aku minta sedikit?” tanya Anita ragu.
Hadi menjauhkan bekalnya.
“Tapi nanti aku tidak kenyang, Anita. Ibuku memasak ini khusus untukku.”
Melihat hal itu, Ibu Guru Maya menghampiri mereka. Beliau berlutut agar sejajar dengan anak-anak.
“Hadi,” sapa Ibu Maya lembut. “Tahukah kamu? Makanan akan terasa jauh lebih lezat jika dimakan bersama teman.”
Hadi menatap Ibu Maya. “Tapi porsiku jadi sedikit, Bu?”
“Mungkin porsinya berkurang, tapi kebahagiaannya berlipat ganda,” senyum Ibu Maya. “Berbagi adalah tanda anak yang hebat dan penyayang.”
Hadi melihat wajah Anita yang sedih, lalu hatinya luluh. Ia membagi ayam gorengnya menjadi dua bagian.
“Ini untukmu, Anita. Ayo makan bareng!”
“Terima kasih, Hadi!” seru Anita senang.
Ibu Maya tersenyum bangga melihat indahnya kebersamaan di kelas itu. ***

