Ditulis Oleh : Muhammad Ramadhanur Halim (Bang Halim)
Fajar belum sempurna merekah saat Hanief terbangun. Di sampingnya, Hizbullah sang adik masih terlelap, memeluk guling. Di meja kecil, sepiring nasi dan segelas susu menanti. Hanief duduk bersila, menatapnya sejenak.
“Bismillah,” bisiknya. “Aku puasa karena Allah.”
Di sekolah, matahari mulai menyengat. Perutnya meronta, kantin tutup, dan aroma makanan entah dari mana menggoda. Tiba-tiba, Hizbullah muncul dengan roti di tangan.
“Sedikit saja, Bang. Tak ada yang lihat,” godanya sambil tersenyum nakal.
Hanief menunduk. Ia teringat pesan Ustazah: “Puasa itu bukan soal lapar. Tapi soal janji pada Allah.”
Dengan tenang, ia menjawab, “Abang sudah janji, Dek.”
Waktu istirahat, Hanief duduk di pojok kelas, membaca buku. Hizbullah datang lagi, kali ini tanpa roti.
“Maaf ya, Bang. Tadi cuma bercanda,” ucapnya pelan.
Hanief tersenyum. “Tak apa. Yuk, kita baca bareng.”
Sore menjelang. Azan Maghrib berkumandang. Hanief meneguk air, rasanya seperti embun dari langit. Ia menatap langit jingga, lalu berbisik: “Ya Allah, bantu aku jaga janji ini. Hari ini, esok, dan seterusnya.”
Puasa pertamanya bukan sekadar menahan lapar, tapi tentang memilih kebenaran, bahkan saat tak ada yang melihat … selain Allah. ***

