Ditulis oleh : Endang Fatmawati
Aldi merasa sangat senang pagi itu karena dia membawa kue buatan ibunya ke sekolah. Di kelas, Aldi duduk bersama teman-temannya dan membagikan kue itu dengan penuh kebahagiaan.
“Coba rasakan, ini kue buatan ibuku, enak sekali,” kata Aldi sambil
tersenyum.
Namun, saat jam istirahat, tiba-tiba kue-kue itu tercecer dan sebagian rusak. Aldi sempat sedih dan kecewa.
“Ah, kueku rusak semua,” katanya pelan. Temannya, Rani, mencoba menghibur, “Tidak apa-apa, Aldi. Yang penting kita tetap bisa makan sama-sama.”
Teman-temannya malah membantu membersihkan sisa kue dan bersama-sama mereka tertawa sambil makan sisa kue yang masih ada. Aldi merasa bersyukur karena memiliki teman yang peduli.
“Terima kasih sudah membantu, teman-teman,” ucap Aldi dengan lega.
Aldi belajar untuk tetap bersyukur. Dia menyadari bahwa memiliki teman
yang baik, jauh lebih penting daripada kue yang rusak. Guru pun memuji sikap Aldi yang tetap ceria dan bijaksana dalam menghadapi masalah kecil itu.
“Kalian sudah menunjukkan sikap yang sangat baik hari ini,” kata guru.
Dari kejadian itu, Aldi mengerti bahwa bersyukur membuat hati menjadi lebih tenang dan bahagia. Aldi akan berusaha lebih hati-hati lagi dalam menjaga kue agar tidak rusak. ***

