Ditulis oleh ; Ellis Pudjawaty H.
Saat kami hendak berangkat sekolah, uang bekal untukku dan saudara- saudaraku sudah ibu siapkan di atas meja di ruang keluarga. Sepulang sekolah, makanan untuk makan siang kami pun sudah Ibu siapkan. Ibuku
memang seorang ibu rumah tangga yang baik. Sebelum azan subuh Ibu sudah bangun. Ibu menyiapkan segalanya untuk kami. Rumah kami sangat bersih, rapi dan nyaman ditempati berkat ibu.
Akan tetapi, jangan salah, saat usia kami 10 tahun, Ibu mewajibkan kami untuk belajar mandiri. Mencuci pakaian dan menyetrika sendiri baju kami. Bekas makan kami, kami bersihkan sendiri. Ayahku rajin membaca buku karena itu hobi ayahku. Secara tanpa kami sadari, ayah sedang memberikan contoh agar kami suka membaca buku. Pada suatu hari, aku diajari membuat cake. Alangkah senangnya aku, tetapi cake buatanku tak seindah buatan Ibu.
“Jangan sedih, masih banyak waktu untuk belajar lebih baik lagi,” kata ibuku dengan suara lembut membesarkan hatiku.
“Iya, Bu. Aku akan belajar lagi agar cake buatanku seindah buatan Ibu,” ucapku.
Ibuku tersenyum sambil mengusap-ngusap kepalaku penuh kasih. Aku bahagia sekali mempunyai ibu dan ayah yang baik hati. ***

